Apakah pemeriksaan psikologis itu?

Pemeriksaan psikologis adalah pemeriksaan kondisi mental seseorang dan aspek-aspek psikologis lainnya. Pemeriksaan psikologis wajib  dilakukan oleh saksi ahli psikologis yang berperan memberikan keterangan psikologis mengenai seseorang yang sedang menjalani proses hukum (umumnya korban atau tersangka, tapi dapat pula pihak-pihak lain). Keterangan saksi ahli psikologis mengenai kondisi psikologis korban atau tersangka yang didasarkan hasil pemeriksaan psikologis akan digunakan sebagai salah satu bukti pendukung baik dalam proses penyidikan polisi maupun dalam persidangan di pengadilan.

Metode-metode apa saja yang dapat digunakan dalam pemeriksaan psikologis?

Metode-metode pemeriksaan yang diakui dalam bidang psikologi, yang sahih (valid) dan dapat diandalkan. Metode-metode yang biasa digunakan adalah observasi, wawancara, dan tes-tes psikologis.

Apakah hal-hal yang menjadi fokus dalam pemeriksaan psikologis?

  • Fakta-fakta hukum yang objektif, seperti kronologis peristiwa dan data dalam peristiwa, intensitas perilaku, penyebab perlakuan dan sebagainya
  • Perubahan yang dialami klien berkaitan dengan kasus
  • Dampak peristiwa yang dialami klien
  • Penghayatan klien akan peristiwa yang terjadi
  • Pola reaksi klien
  • Karakteristik kepribadian klien

Hal-hal penting apa saja yang perlu diperhatikan ketika melakukan pemeriksaan psikologis?

  • Pada pertemuan pertama dengan klien, psikolog menjelaskan aturan pemeriksaan psikologis seperti berapa kali pemeriksaan akan dilakukan, penggunaan alat audiovisual jika diperlukan, dan sejauh mana kerahasiaan informasi klien akan dijaga. Sebaiknya psikolog sudah menyiapkan lembar persetujuan yang berisikan hal-hal ini. Klien dapat menandatanganinya sebagai tanda menyetujui dengan asumsi ia telah memahami informasi yang diberikan (informed consent).
  • Mendeteksi malingering, yaitu kemungkinan klien berpura-pura sakit mental, berpura-pura jadi korban, berbohong karena ingin menghindari hukuman, dan sebagainya.
  • Memberlakukan asumsi asas praduga tidak bersalah, jika yg diperiksa adalah pihak tersangka
  • Memahami bias-bias pribadi, dan terus melakukan refleksi terkait dengan bias-bias ini.
  • Memahami pilihan metode dan alat tes atau instrumen lain yang digunakan
  • Menjaga hubungan dengan klien tetap dalam lingkup profesional untuk menjamin objektivitas.
  • Perhatikan faktor waktu ketika suatu perilaku atau dampak terlihat pada diri klien. Jarak waktu ketika peristiwa terjadi sampai dengan saat pemeriksaan dilakukan memungkinkan adanya perubahan perilaku dan efek psikologis yang dialami klien. Contohnya tingkat depresi korban yang sudah berkurang saat pemeriksaan dilakukan dibandingkan ketika korban melaporkan peristiwa buruk yang ia alami kepada polisi.
  • Berhati-hatilah dalam menginterpretasikan data, perlu mengintegrasikan hasil temuan sebelum mengambil kesimpulan. Misalnya jangan menyimpulkan adanya pelecehan seksual pada anak hanya dari observasi bahwa ia selalu menonjok boneka lelaki atau menelanjangi semua boneka yang diberikan kepadanya.

Bagaimana penentuan frekuensi pertemuan pemeriksaan psikologis?

Pada umumnya, ketentuan mengenai frekuensi pelaksanaan pemeriksaan psikologis bersifat fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan serta tujuan pemeriksaan psikologis. Hal penting yang ditekankan dalam pemeriksaan psikologis adalah pengambilan data yang lengkap dan akurat dengan metode-metode psikologis yang tepat dan efektif.

Kami di Yayasan Pulih memiliki prosedur pemeriksaan psikologis minimal empat kali pertemuan dengan jeda antar pertemuan berkisar satu minggu. Pertimbangannya adalah agar:

  1. Memberikan kesempatan realistis bagi psikolog untuk melakukan pemeriksaan psikologis secara optimal.
  2. Meminimalisir beban mental pada klien (khususnya korban) untuk mengungkapkan data yang diperlukan dalam proses pemeriksaan psikologis. Dalam mengikuti proses pemeriksaan psikologis, keadaan emosi klien (khususnya korban) cenderung terpengaruh oleh data-data yang diungkapkan berulang kali dalam pemeriksaan psikologis. Mengingat hal ini, maka jeda waktu yang ditetapkan antar pertemuan juga memiliki tujuan untuk memberikan waktu realistis bagi klien, agar mampu mengelola keadaan psikologisnya dan mampu memberikan data yang reliabel.

Namun, jika ada kondisi khusus seperti sulitnya menggali data dari klien karena kondisi-kondisi tertentu, pemeriksaan psikologis di Yayasan Pulih dapat dilaksanakan lebih dari empat kali pertemuan.

Bagaimana batasan kerahasiaan informasi yang didapatkan dari pemeriksaan psikologis?

Hasil pemeriksaan psikologis klien hanya digunakan untuk kepentingan proses hukum. Hasil pemeriksaan ini dapat disampaikan kepada penegak hukum, rekan sejawat untuk mencari opini kedua agar lebih memahami kasus dengan baik, atau dalam konferensi kasus (case conference) untuk proses pembelajaran rekan-rekan saksi ahli psikologis lainnya dengan tetap berpegang pada kode etik psikolog.

Apakah Surat Keterangan Ahli (SKA) itu?

Surat keterangan ahli (SKA) adalah sebuah surat yang berisikan hasil temuan saksi ahli psikologis dari proses pemeriksaan psikologis terhadap klien.

Apakah ada format penulisan SKA?

Sejauh ini belum ada format penulisan SKA yang berlaku secara umum di seluruh Indonesia. Kami di Yayasan Pulih menggunakan format sebagai berikut:

  • Keterangan tentang identitas diri psikolog serta ulasan bidang keahlian psikolog yang bersangkutan
  • Tujuan pemeriksaan
  • Metodologi pemeriksaan psikologis
  • Hasil pemeriksaan psikologis
  • Kajian teoretis / tinjauan pustaka
  • Kesimpulan

Apa tips dalam penulisan Surat Keterangan Ahli (SKA) kasus, terutama mengenai psikodinamika klien agar dapat dipahami secara tepat oleh penegak hukum?

  • Mengingat SKA akan digunakan dalam proses hukum, usahakan untuk menggunakan kata-kata yang tegas
  • Hindari penggunaan jargon-jargon psikologi
  • Jelaskanlah dengan bahasa yang jelas serta sesuai data yang didapatkan Berhati-hatilah memilih kata-kata dalam menjelaskan kondisi proses psikologis klien sejak mengalami kejadian sampai saat sekarang, termasuk di dalamnya dampak kekerasan yang dialami klien.
  • Perhatikan faktor waktu serta faktor lain yang penting dalam psikodinamika klien. Contohnya: seorang klien (korban KDRT) memiliki daya lenting yang baik. Saat pemeriksaan psikologis berlangsung, ia tidak lagi menampilkan dampak negatif yang parah. Maka psikolog dapat menuliskan kondisi klien dalam SKA seperti ini: ”Ima (nama samaran) memiliki daya juang yang tinggi yang membantunya dalam melewati peristiwa kekerasan. Saat ini kondisi psikologisnya sudah jauh lebih baik, terutama setelah tidak lagi bertemu dengan pelaku…” Di sini psikolog perlu menekankan tentang perubahan perilaku yang dialami Ima ketika bersama pelaku, ketika baru saja mengambil keputusan untuk tidak lagi bersama pelaku, dan setelah beberapa waktu lamanya tidak lagi bersama pelaku. Dengan demikian akan tampak psikodinamika klien agar dapat dipahami dengan tepat oleh para penegak hukum.

*Artikel 2 dari 4 bagian. Artikel lanjutan: Berita Acara Pemeriksaan

Dikutip dari buku: PSIKOLOG DALAM PROSES HUKUM: Sebuah Panduan Praktis Bagi Para Psikolog untuk Berperan dalam Proses Hukum. Terbitan Yayasan Pulih.

Penulis: Gisella Pratiwi

Narasumber :

  • Nirmala Ika Kusumaningrum, M.Psi
  • Vitria Lazzarini, M.Psi, Psi
  • Reneta Kristiani, M.Psi, Psi
  • Anita Kristiana, M.Psi, Psi
  • Maharani Ardi Putri, M.Psi, Psi
  • Indah Sulistyorini M.Psi,Psi
  • Ester Lianawati, M.Si, Psi
  • Kristi Poerwandari, M.Hum, Psi