23 Februari 20201

Disclaimer: Tulisan ini dibuat dengan dukungan dari UNFPA & DFAT. Pandangan yang diungkapkan di sini sama sekali tidak dapat dianggap mencerminkan pendapat resmi dari UNFPA dan DFAT.

Dalam situasi pandemik ini, ada banyak faktor yang mempengaruhi emosi dan tingkat stres kita. Self-care bisa sangat membantu untuk menjaga kesehatan mental kita, tapi terkadang, pada situasi tertentu kita mungkin juga memerlukan bantuan dan dukungan dari orang lain.  Ketika mengalami stress, kadang kita, merasa ini seharusnya hal yang bisa kita tangani sendiri. Apakah kita kemudian harus mencari bantuan? Bisa jadi kita berpikir bahwa masalah yang sedang kita hadapi tidak seberat itu sampai perlu membutuhkan bantuan orang lain—terlebih lagi bantuan profesional. Atau, kita ragu karena ada stigma sosial yang bisa melekat pada diri kita. Selain itu, orang-orang sekitar sulit mengerti kenapa kita mencari bantuan.  

Mengakui bahwa kita tidak bisa menyelesaikannya sendiri adalah langkah pertama yang sulit, tapi perlu dilakukan.  Bantuan untuk kesehatan mental ada dalam beragam bentuk, dan untuk semua orang sesuai kebutuhannya. Mencari bantuan bisa sesederhana bercerita pada teman, atau dukungan tenaga profesional.

“Apakah aku membutuhkan bantuan?”

Ada banyak alasan mengapa kita perlu mulai memikirkan untuk mencari bantuan. Ada saatnya, kita membutuhkan dukungan sosial karena kita sedang kesulitan membuka diri atau tidak memiliki teman bercerita. Mungkin, kita sedang menghadapi masalah dengan relasi kita.

Berikut beberapa situasi lain yang bisa menjadi tanda bahwa kita sedang mengalami masalah kesehatan mental, dan memerlukan bantuan:

Tidak lagi menikmati hal-hal yang kamu sukai

Ini bisa menjadi tanda awal kita perlu lebih memperhatikan kesehatan mental. Permasalahan yang dihadapi jika ditambah pengelolaan emosional yang kurang efektif akan berujung pada permasalahan kesehatan mental. Kita tidak lagi menikmati perasaan gembira ataupun bergairah ketika melakukan berbagai hal yang dulunya kita sukai, dan hal ini terjadi bukan karena kebosanan semata.

Mengalami kehilangan seseorang atau sesuatu yang berharga

Kesedihan adalah reaksi wajar yang menyertai kehilangan.  Perasaan sedih akibat adanya kehilangan terkadang tidaklah mudah kita lalui. Sehingga tidak perlu ragu mencari bantuan dalam proses pemulihan kita– baik menjangkau orang terdekat maupun bantuan profesional.

 

Baca lebih lanjut: Merasa Sedih di Masa Pandemi: Kamu Tidak Sendiri 

Merasa sedih, marah, tidak berdaya, atau “tidak berguna” selama berminggu-minggu

Terkadang, jika kita merasa “bukan seperti diri kita” selama beberapa waktu, mungkin itu sebuah tanda masalah kesehatan mental yang perlu diatasi. Misalnya, memiliki perasaan yang tidak bisa dikontrol, kebiasaan makan dan tidur (yang bertambah atau berkurang), atau mulai menarik diri dari teman-teman dan keluarga.  Jika perasaan seperti ini makin parah sampai kita memikirkan soal kematian atau bunuh diri, segeralah mencari bantuan.

Menggunakan tidur, makan, alkohol, obat-obatan secara berlebihan untuk menghindari permasalahan

Pada dasarnya, kita memang memerlukan istirahat serta asupan gizi yang cukup agar bisa menjaga kesehatan fisik maupun mental kita. Namun, jika kita tidak dapat mengontrol dan menggunakannya sebagai cara untuk menghindari masalah, misalnya tidur atau makan berlebihan, menggunakan obat-obatan dengan tidak bertanggung jawab, atau tidak bisa menghentikan diri walau ada konsekuensi negatifnya, kita mungkin sedang menghadapi kecanduan atau perilaku kompulsif yang perlu diatasi.

Mengalami Kejadian Traumatis

Beberapa dari kita pernah mengalami kejadian traumatis, kekerasan, atau pengabaian di masa lalu. Atau, kita baru saja menerima berita buruk soal kesehatan kita. Mungkin, kita baru mengalami kecelakaan atau menjadi korban kejahatan. Dengan mencari bantuan, kita bisa memulai proses pemulihan dari trauma kita.

Mulai menggunakan cara-cara berkekerasan ketika mengalami permasalahan

Stres maupun tekanan yang kita hadapi, sering kali bisa berujung pada rasa frustrasi karena sulitnya memahami kondisi ataupun sulit untuk mengakses sumber dukunganterutama dalam masa pandemik. Rasa frustrasi dapat ini, bisa meningkatkan perilaku-perilaku berisiko yang berujung pada penggunaan cara-cara berkekerasan bagi diri sendiri maupun orang lain, jika kita membiarkan emosi dan perasaan negatif yang kita rasakan berlarut larut. Misalnya memaki, memukul, melempar barang, ataupun menggunakan silent treatment (mendiamkan) jika sedang berkonflik dengan orang lain. 

Perasaan sedih dan adanya stres merupakan hal yang wajar, terutama dalam konteks pandemi, ketika ada banyak perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Bahkan, dalam situasi seperti ini, kita bisa mengalami berbagai luapan emosi sekaligus. Tidak ada yang salah dengan kesedihan ataupun gejolak emosi lain yang mungkin belum pernah kita rasakan. Tanpa adanya pandemi pun sangat wajar jika kita mengalami gejolak emosi maupun perasaan yang terkadang sulit kita pahami.

Terutama di tengah pandemi, banyak faktor risiko yang bisa membuat seseorang cenderung melakukan kekerasan sebagai jalan keluar karena terbatasnya akses bantuan. Misalnya bagi para laki-laki, ada stres karena potensi kehilangan pekerjaan, tuntutan peran gender yang disertai dengan kesulitan mengekspresikan emosi, maupun kebingungan meregulasi emosi. Sehingga, penting bagi kita untuk mencari bantuan jika memang merasa membutuhkan.

Dalam mencari bantuan, ada beberapa situasi yang lebih mendesak dari yang lainnya. Jika masalah mental yang kita hadapi mengganggu keamanan dan keberfungsian kita dalam kehidupan sehari-hari, itu berarti kita harus segera mencari bantuan. Contohnya, kita tak bisa melakukan hal-hal yang dulu bisa kita lakukan. Mungkin kita jadi tak bisa keluar rumah, tidur nyenyak lagi, dan enggan makan atau merawat diri. Atau, ketakutan, kelelahan, atau kesedihan kita terlalu berat sampai kita tak bisa bekerja atau belajar. Juga ketika kita melakukan perilaku berisiko seperti menyakiti diri sendiri (self-harm). Jika kita merasa kesulitan dalam menjalani hidup sehari-hari, mulailah mencari bantuan dengan bentuk apapun itu—misalnya melalui e-mail, atau bercerita pada orang lain. 

Ketahuilah bahwa kamu tidak sendiri, dan kamu bisa mengakses bantuan.

“Bagaimana caranya mencari bantuan?”

Mencari bantuan bisa diawali dengan yang paling dekat. Misalnya, bercerita pada teman yang membuat dirimu nyaman ataupun anggota keluarga yang menurutmu suportif. Kalau setelahnya kita merasa lega dan ada perubahan dalam hidup kita, itu berarti dukungan dari mereka cukup efektif. Mungkin karena dukungan dari mereka, kita perlahan bisa beraktivitas dan merasa sehat kembali.

Namun, bagi sebagian orang, bercerita pada orang terdekat tidak cukup untuk membawa perubahan, sehingga kita harus mencari bantuan profesional. Langkah ini seringkali menantang, karena kita merasa asing dengan proses ini, dan memang sulit mencari bantuan ketika kita tidak sedang baik-baik saja. 

Mencari bantuan profesional bisa diawali dengan mengontak layanan profesional untuk kesehatan mental yang paling mudah dijangkau. Di masa sekarang, banyak juga pilihan online. Hal pertama yang bisa kita dapatkan adalah ruang aman untuk bercerita apa yang kita rasakan tanpa penghakiman. Kita merasa didengarkan dan dimengerti, serta menyadari bahwa percakapan kita bersifat konfidensial. Maka, tak perlu ragu untuk bercerita dengan jujur dan apa adanya.

Bantuan profesional seperti konseling bersifat kolaboratif.  Maka itu, sebuah sesi konseling butuh keterbukaan dari klien. Dalam proses konseling, konselor dan konseli bisa menyepakati bersama apa yang diharapkan dari proses ini. Kalau ekspektasi kita berada di luar lingkup konseling, para konselor bisa merujuk kita ke bantuan profesional yang sesuai, seperti ke lembaga hukum atau psikiater.

Ingat untuk tidak terburu-buru dalam prosesnya. Terkadang untuk menangkap apa yang kita butuhkan, butuh lebih dari satu pertemuan. Selain itu, kita juga mendiskusikan berbagai alternatif solusi. Misalnya, kita bertanya-tanya: apakah kita sudah memilih bantuan yang tepat, apakah kita juga butuh intervensi obat dari psikiater?  Ini bisa didiskusikan dengan tenaga profesional terdekat (atau orang terdekat yang kita percayai), sehingga kita bisa menemukan bantuan yang sesuai. Selalu tanyakan manfaat, risiko, dan efek samping dari masing-masing opsi yang diberikan. Maka itu, tidak perlu terburu-buru dalam mengambil keputusan, dan penting untuk kita mengetahui layanan yang tersedia.

Proses mencari dukungan yang cocok seringkali adalah jalan yang panjang. Tidak selalu kita dapat menemukan bantuan yang sesuai dengan sekali coba.  Kalau kita merasa tersangkut di satu layanan tertentu karena alasan apapun, kita boleh terus mencari alternatif lain. 

Setelah kita mendapat bantuan, mungkin  proses pemulihan kita terasa tidak mulus. Terkadang kita merasa ada yang berubah; di kali lain kita merasa tersendat. Ini adalah hal yang sangat wajar. Tak perlu khawatir, setiap orang memiliki situasinya masing-masing, sehingga proses pemulihan—termasuk mencari dan mendapatkan bantuan—bagi setiap orang pun berbeda.  Ambil waktu yang kamu butuhkan, dan tak perlu terburu-buru. Go at your own pace.

“Apa yang bisa kulakukan untuk mendukung orang terdekat yang sedang mencari bantuan?”

Hal berharga yang bisa kita lakukan adalah menawarkan dukungan dan berempati. Salah satu contoh konkritnya adalah dengan membantu menghubungkannya dengan bantuan kesehatan mental yang mereka butuhkan. Mungkin, kita juga harus belajar mengenai masalah yang mereka sedang hadapi, agar kita bisa lebih mengerti dan mendukung mereka. Kita bisa bertanya dan mendengarkan dengan peduli. Bagi beberapa orang yang tak biasa bercerita, kita bisa memulai percakapan tentang kesehatan mental dengan bertanya dahulu. Tentu saja, kita juga bisa menawarkan bantuan praktis seperti meringankan tanggung jawab domestik, atau dalam mengantarkan mereka ke tempat konseling. Yang terpenting, kita terus mendukung mereka dalam proses pemulihan sesuai kebutuhan mereka.

Seringkali, ada banyak pertimbangan yang membuat kita ragu untuk mencari bantuan. Padahal, bantuan untuk kesehatan mental adalah untuk semua orang. Selalu ingat bahwa kamu tidak sendiri dan kamu berhak mengakses bantuan. Terlebih lagi, bantuan yang kita butuhkan berbeda sesuai kebutuhan kita masing-masing, jadi tidak perlu merasa khawatir jika kita merasa butuh dukungan lebih. Untuk mengetahui bantuan profesional terdekat, kamu bisa mengunjungi situs Kementerian Kesehatan (http://sehat-jiwa.kemkes.go.id/info_pelayanan/fasilitas). Jika kamu atau orang yang kamu kenal membutuhkan bantuan psikologis seperti konseling maupun pemulihan trauma, hubungi Layanan Psikologis Pulih. Sementara jika kamu atau orang yang kamu kenal merasa ingin bunuh diri, hubungi 119 untuk mendapatkan penanganan segera. []

By: Natasha Santoso

 

Sumber:

https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/layanan-konseling-psikolog-psikiater/ 

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/all-grown/201512/what-really-happens-in-therapy-session

https://www.mentalhealth.gov/talk/friends-family-members

https://www.mind.org.uk/information-support/guides-to-support-and-services/seeking-help-for-a-mental-health-problem/ 

https://www.mind.org.uk/information-support/types-of-mental-health-problems/mental-health-problems-introduction/self-care/#collapsee2112 

https://www.qld.gov.au/health/mental-health/get-started/when-to-seek-help 

https://www.psychologytoday.com/us/blog/where-science-meets-the-steps/201303/5-signs-its-time-seek-therapy