Banyak jurnalis tidak menyadari bahwa mereka rentan terkena dampak peristiwa-peristiwa traumatik yang mereka liput sekaligus strategis dalam pemulihand dari trauma.

Jurnalis adalah orang-orang dengan profesi yang menuntut kehandalan daya tahan baik fisik maupun mental, sebab ketika mereka meliput peristiwa traumatik, mereka adalah pihak pertama yang ‘langsung’ melihat dan ‘mengalami’ kejadian seperti juga dialami oleh polisi atau petugas kesehatan (gawat darurat). Jurnalis menjadi saksi sejarah yang bertugas menghadirkan kejadian dalam situasi’se-otentik’ mungkin kepada publik. namun, menjadi saksi peristiwa kadang (atau sering) juga berarti menyaksikan pula peristiwa traumatik yang sangat menyakitkan dan bisa berefek trauma sekunder. Trauma sekunder adalah trauma yang dialami oleh mereka yang tidak secara langsung mengalami kejadian .

Lewat mata dan kata-kata jurnalis pulalah masyarakat pemirsa/pembaca merasakan betapa menyakitkannya suatu peristiwa. Dengan kata lain video/foto/tulisan yang dibuat jurnalis dapat menimbulkan dampak psikologis negatif bagi masyarakat pembaca dan pemirsa.

Untuk menghindari efek-efek negatif dari peliputan dan pemberitaan peristiwa traumatik, jurnalis dan media perlu membekali diri mereka dengan pemahaman tentang trauma, dampak dan respon. Di sisi lain, jurnalis dan media yang peka terhadap dampak dari peristiwa traumatik juga bisa berperan menjadi bagian bagi pemulihan komunitas melalu melalui media mereka